Lokasi
Beranda > Ekonomi > Abdul Hadi: Perlu Inovasi Agar Harga Daging Tetap Stabil

Abdul Hadi: Perlu Inovasi Agar Harga Daging Tetap Stabil

13346623_1018418994917715_987942736503986376_n

Bandung, jabar.pks.id – Rencana pemerintah untuk mengimpor daging perlu dikaji secara lebih serius. Pasalnya, dari hasil kunjungan langsung ke pasar tradisional, Ir. Abdul Hadi Wijaya, MSc., menganggap kebijakan impor daging belum tentu tepat sasaran. Hal tersebut disampaikan oleh anggota Komisi 2 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat itu pada Rabu (1/6) di Bandung, Jawa Barat.

“Daging fresh lokal tetap menjadi pilihan masyarakat. Fakta ini hendaknya diperhatikan oleh pemerintah yang terkesan ingin membuka keran impor daging sapi. Harus ada kajian secara mendalam, apakah niatan menambah impor daging benar-benar bisa menurunkan harga daging menjadi Rp 80 ribu per kilogram benar-benar realistis?” tanyanya.

Anggota legislatif (aleg) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari daerah pemilihan (dapil) Purwakarta dan Karawang itu menerangkan bahwa ia telah melakukan kunjungan langsung ke pasar tradisional.

“Sebagai anggota komisi 2 DPRD Jawa Barat, kemarin saya mengecek langsung ke Pasar Tanjungsari, Sumedang, dan hari ini ke Pasar Simpang, Purwakarta. Ternyata, kondisi di pasar berbeda dengan pemberitaan media. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi konsentrasi saya,” ungkapnya.

Pertama, lanjut Abdul Hadi, tidak terjadi permasalahan supply dan demand. Pedagang tidak melaporkan adanya kelangkaan barang. Daging sapi, ayam, beras, kentang, telur, ikan, minyak goreng dan sebagainya tersedia secara normal di pemasok.

Kedua, harga relatif stabil. Berbeda dengan berita di koran yang terkesan panik dengan harga daging sapi, pedagang maupun pembeli terkesan biasa-biasa saja. Bahkan data harga daging malah turun dari Rp 110.000 (27/5) ke Rp 105.000 (30/5).

Ketiga, masyarakat tetap lebih memilih daging sapi lokal. Walaupun ada daging beku impor seharga Rp 50.000 – Rp 60.000 dalam jumlah terbatas, ternyata masyarakat lebih memilih membeli daging lokal senilai dua kali lipatnya. Daging beku impor juga cukup merepotkan bagi pedagang. Karena para pedagang perlu menyiapkan lemari pendingin dan alat pemotong daging beku.

Daripada mengedepankan impor, Abdul Hadi meminta pemerintah mencari inovasi lain guna menciptakan kondisi perekonomian yang berpihak kepada rakyat, baik sebagai pedagang maupun pembeli.

“Pada prinsipnya saya mendukung perbaikan tata kelola perdagangan. Fokusnya harus pada pengurangan jumlah mata rantai perdagangan antara petani dengan konsumen. Ini sudah dirintis Menteri Pertanian RI dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dalam Program Toko Tani yang dilaunching bulan Mei lalu di Car Free Day Jalan Dago. Semoga ada inovasi yang signifikan dalam aspek perdagangan ini,” harapnya. (DLS)

Baca juga

Leave a Reply

Top